Selasa, 07 Juli 2015

Cinta Pertama Dibawah Tiang Karya Cecep Mubarok






HARI YANG MENYAKITKAN



Pagi yang cerah dan sejuk, suasana yang begitu indah, terpancar sinar mentari sejuk di pagi hari. Bunga kian memekar seolah menantikan sinarnya.
   Kupu-kupu kian kemari mengepakan sayapnya yang seolah-olah membangunkan yang sedang tertidur lelap. Kabut kian menipis tak terlihat jelas, pohon yang menjulang dan jalan yang membentang.
Namun sayang, keindahan dipagi itu tidak dirasakan oleh satu sosok yang mana satu sosok ini, pikirannya sedang terganggu, dialah pak Erwin orang yang merasakannya, satu sosok ini perasaannya sedang terganggu, sebab ulah anak sulungnya yang bernama Raihan dengan nama lengkap raihan aria winata.
Hal apakah yang dilakukan oleh Raihan?, sehingga pak Erwin begitu benci kepadanya.
Ternyata ulah raihan itu selalu tidak masuk sekolah saat waktu belajar berlangsung. Padahal dari rumah dia berangkat dan pulang kembali saat semua murid pulang ke rumahnya masing-masing.
Tapi? Entah kemana dia pergi?, sendiri atau bersama teman-temannya.
   Sebelumnya pak Erwin tidak mengetahui dengan ulahnya raihan, namun lama kelamaan akhirnya dia tahu kalau ulah raihan belakangan ini seperti apa?.
Pak Erwin mengetahuinya tanpa disengaja, karna ketika itu, pak Erwin pulang dari kantor kemalaman, ditengah jalan dia bertemu dengan wali kelas raihan yang sepertinya sedang menunggu jemputan.
Akhirnya pak Erwin menawarkan pulang bersama dengannya, mobil kembali melaju, wali kelas raihan membuka pembicaraan.
“kebetulan pak? Saya bisa ngobrol disini”.
“hm, emangnya ada perlu apa?”.
“begini pak, tapi maaf yah pak, bukannya berarti saya tidak sopan, membicarakannya disini. Tapi saya rasa, lebih cepat lebih baik, kalau saya membicarakannya disini”.
“oh, silahkan tidak ada masalah, emangnya ada apa? Kok kelihatannya begitu penting?”. Tanya nya heran.
“betul pak, sebenarnya ini masalah raihan di sekolah”.
Wali kelas raihan begitu details menceritakan semuanya kepada pak Erwin. Sesaat kemudian mobil telah berhenti di depan rumah wali kelas itu.
“terima kasih pak, sudah mau nganterin”.
“iya  sama-sama, justru seharusnya saya yang berterima kasih atas informasinya”.
“iya pak, yuk mari”.
“mari”. Jawabnya ringkas.
Mobil kembali melaju dengan tenang, mobil bermerk fortuner kini pak Erwin telah sampai di rumah, pak Erwin tidak mau ambil pusing, dia langsung pergi ke kamar dan langsung tidur.
   Malam semakin larut dan udara semakin mencekam, esok adalah hari minggu, tanggal di kalender berarti merah, para pekerja yang bekerja pasti libur, hanya beberapa pekerja yang bekerja lembur.


*****

Sekarang adalah hari minggu, pak Erwin kerjanya libur, sama raihan sekolahnya juga libur.
Ketika itu, raihan sedang menonton televisi di ruang keluarga, kemudian pak Erwin menghanpiri dan berdiri di hadapannya, tanpa basa-basi, pak Erwin langsung menamparnya.
“plakk!!”.
“aww!!”. Raihan meringis kesakitan, dia langsung bangkit dari tempat duduknya, belum saja dia berdiri, pantatnya di tendang, dia langsung terpental dan jatuh tersungkur.
“apa-apaan ini?” tanyanya heran.
“apa-apaan ini, apa-apaan ini, dasar, anak goblok, anak tak tahu diuntung, dari rumah berangkat kesekolah, disekolah tidak ada, apa-apaan ini?”. Jawabnya geram.
Raihan terdiam, mukanya seketika berubah menjadi pucat pasi, tubuhnya langsung gemetar serasa tersambar petir di siang bolong, pikirnya, tahu dari siapa? Kalau gue jarang masuk sekolah, gumamnya dalam hati.
Untung seketika itu bu dewi datang dan menghampirinya.
“ada apa ini?”. Tanyanya heran.
Suara bu dewi begitu lantang, matanya melotot melihat raihan yang masih tersungkur, tiba-tiba suara telfon berbunyi.
“krining….. krining….”.
Pak Erwin segera mengangkat gagang telfon.
“hallo, ini dengan siapa?”.
“ini nugi om, teman sebangkunya raihan”.
“ada perlu apa sama dia?”.
“begini om, barusan saya telfon ke hapenya, tapi enggak aktif, oh iya, tolong titip pesan untuk dia, nanti malam, saya tunggu di studio musik mahaka”.
“loh, emangnya ada apa disana?”. Tanyanya heran
“loh, kok om enggak tahu sih, kalau kita-kita, bakalan rekaman band”.
Tiba-tiba kabel telfon dari buntutnya dicabut dan kemudian di banting ke lantai.
“prakk…..”.
Pak Erwin menghampiri raihan kembali, dan langsung menampar untuk yang kedua kalinya.
“pak, stop!!, jangan pak, apa-apaan ini”. Bu dewi menjerit-jerit.
“mah, gara-gara dia terlalu dimanja, dia jadi begini, puihh”. Pak Erwin meludah ke lantai dan langsung meninggalkan mereka.
“blugg”. Pintu tertutup.
Suara mesin mobil menyala, Bu dewi segera bangkit dari tempat duduknya, ia tak berani membuka pintu, melihat siapa yang menyalakan mobil. Entah mang parja? Atau pak Erwin, hanya saja bu dewi membuka gorden yang masih tertutup, ternyata pak Erwin yang menyalakan, sesaat kemudian mobil telah keluar dari garasi dan melaju entah kemana, dengan cepat bu dewi segera menghampiri raihan yang masih tersungkur.
Bu dewi langsung menelfon taxi langganannya, sesaat kemudian taxi telah sampai di depan rumah, bu dewi menggendeng raihan dan di dudukan di kursi depan, sementara bu dewi di kursi belakang, asalnya raihan mau dibawa ke rumah sakit, namun raihan menolaknya, dia takut kalau dibawa ke rumah sakit melihat jarum suntik, dia paling tidak mau kalau ke rumah sakit melihat jarun suntik, apa lagi yang besar-besar. Atas permintaannya, akhirnya dia minta dibawa ke puskesmas terdekat saja. Tak memakan waktu yang lama mereka telah sampai di puskesmas. Raihan masih di gendeng oleh bu dewi. Dengan cepat bu dewi segera mengambil nomor antrian pasien, sedangkan taxi menunggu di halaman puskesmas saja.
   Satu persatu pasien telah di periksa dan langsung pulang, tiba giliran raihan yang akan diperiksa, bu dewi sangat khawatir kalau terjadi sesuatu yang mengakibatkan fatal, untung saja tidak ada masalah, usai diperiksa, raihan minta cepat-cepat untuk pulang. Sesaat kemudian mereka telah sampai di rumah kembali dengan selamat.
Memang sudah sewajarnya orang tua, memberikan kasih sayang kepada anaknya, begitu pula sang anak yang sudah selayaknya mendapatkan akan kasih sayangnya.
Tapi? Kenapa dengan raihan?
Apa mungkin pak Erwin begitu kecewa? Kepada raihan?.
Ada apa dibalik semuanya ini?. Apakah ada hikmah dibalik semuanya ini?
   Matahari mulai naik, kota Jakarta semakin panas, dan jalananpun semakin macet. Pantas saja kalau Jakarta dijuluki sebagai kota Metro Politan.












*****





Siapa yang salah



   Raihan masih terbaring di tempat tidur,bu dewi masih menemaninya serta mengelap pipinya dengan air hangat dan kapas, sesaat kemudian rasa nyerinya mulai hilang.
“raihan?coba mamah mau Tanya sama kamu, kenapa tadi kamu di tampar sama papah hm….?
Bu dewi masih mengelap pipinya, raihan diam tak bicara wajahnya merah dan matanya berkaca-kaca.
   “memang dari dulu,sejak raihan ingat, hanya mamah yang bisa ngertiin perasaan raihan, iya mah,pas tadi memang raihan yang salah, raihan akui semua kesalahan raihan,tapi? papah orangnya jahat mah mamahkan tahu sendiri? tiap papah lagi kesal, raihan pasti yang jadi sasaran, raihan gak suka sama papah, raihan benci mah, uhh!!, coba kalau misalnya yang tadi nampar itu orang lain, udah abis kali, tuh orang”.
Raihan mulai menggerutu, dia mulai ngomel-ngomel lagi, suara mesin mobil menyala, Bu dewi kira, mobil yang datang itu Tania, anak kedua yang sekarang duduk di kls tiga smp.
“mah?, siapa yang datang? Papah bukan?”. Tanyanya penasaran.
“loh, kok papah udah pulang lagi?”. Jawab bu dewi singkat.
“terus? Siapa yang datang?”. Tanyanya penasaran.
“hmm, paling juga Tania, pulang dari temannya, pake mobil yang satu lagi”.
“oh, hmm, mah?”.
“apa han?”
“raihan enggak suka sama papah”.
“loh? Emangnya enggak suka kenapa?, walau begitu juga kan, itu papahmu”.
Bu dewi dan Raihan masih membicarakan Pak Erwin. Mereka tidak tahu kalau  sebenarnya yang datang itu siapa, Bu dewi dan Raihan kira, yang baru datang itu Tania. Ternyata yang baru datang itu Pak Erwin. Setelah masuk rumah Pak Erwin memanggil-manggil Bu dewi.
“mah, mamah…”.
Pak Erwin kesana kemari mencari Bu dewi, kedepan tidak ada, mencari kebelakang juga, tidak ada. Setelah kembali masuk rumah. Sekilas pak Erwin mendengar suara yang sedang bercakap-cakap. Kemudian pak Erwin mencari suara itu, dari mana?. Sesaat kemudian pak Erwin mendengar jelas, kalau yang sedang bercakap-cakap itu, Bu dewi dan Raihan.
Pak Erwin menyimak pembicaraan mereka. Pak Erwin terperanjat kaget, tubuhnya gemetar, serasa kesambar petir di siang bolong. Karena percakapan itu, sedang membicarakannya.
“Dasar, emang mulut perempuan itu pada bawel. Dulu neneknya yang bawel, yang bisanya cumin ngomeel mulu, sekarang turun ke anaknya,uhh!!”. Pak Erwin menggerutu di dalam hati. Pak Erwin terus menyimak apa yang akan mereka bicarakan selanjutnya. Sesaat kemudian pak Erwin terperanjat kaget lagi, raihan mulai membahas Karakteria pak Erwin yang dia anggap tidak suka.
“mah? Kenapa sih, papah itu, masa punya masih punya sifat kekanak-kanakan, mamah tentu masih ingat kan?, waktu kita pulang dari bandung. Pas ditengah tol cipularang, papah minta gentian nyetir, padahal, ketika itu, raihan lagi ngantuk, yah terpaksa raihan yang nyetir, sampai di terminal Lebak bulus, ada bus yang mogok ditengah jalan, mobil kita hamper menabraknya, untung saja raihan langsung banting stit ke kiri, hanya saja bemper mobil cumin pengok dikit, padahal kita semua? Selamatkan?, eh tahu-tahunya papah ngomel-ngomel, coba ada om leo lagi, pas waktu di mobil itu, uh!!, papah emang enggak tahu diuntung, udah selamet kok, masih tetap ngomel”.
Raihan kalau sudah ngomong, langsung nyerocos, tak peduli siapa yang diajak bicaranya itu, yang penting dia puas dengan ocehannya. Bu Dewi hanya bisa diam, mendengar ocehan raihan.
Pak Erwin diam tanpa kata, wajahnya memerah, dan matanya berkaca-kaca, pak Erwin menyadari, akan sikapnya yang selama ini Raihan anggap tidak suka. Pak Erwin terus berdiri didepan pintu kamar yang masih tertutup. Bu Dewi menghela nafas dalam-dalam, ia ingin menenangkan Raihan, juga dirinya, dengan suara yang tenang, Bu Dewi berbicara.
“memang han, di dunia ini, tak ada manusia yang terlahir sempurna, sama halnya seperti papahmu ini”.
“iya mah, raihan ngerti dan Raihan paham kok mah, kalau didunia ini enggak ada manusia yang terlahir sempurna, sama halnya seperti Raihan, bahkan raihan juga lebih banyak kekurangannya, dari pada kelebihannya. Mah, begini-begini juga, Raihan tahu, akan pendidikan, raihan tahu adab dan sopan santun,juga tatak rama, tatak rama seorang anak terhadap orang tua, raihan selalu berusaha ngertiin perasaan papah, tapi sebaliknya? “kapan papah ngertiin perasaan raihan? Jujur saja mah, raihan tertekan dengan peraturan papah ini, oke, raihan sadar mah”.
Bu dewi kembali diam dan membisu, dan menghela nafas dalam-dalam.
“iya sih, kalau dalam masalah ini, mamah juga ngerti, tapi?”.
Bu dewi diam sesaat, ketika akan  melanjutkan berbicara, tiba-tiba raihan langsung memotongnya.
“Tapi?  tapi apa mah? Dalam masalah ini engga ada tapi-tapian segala, mau raihan itu, kalau papah ngasih pelajaran atau nasihat itu harus secara perlahan  umpama seorang supir mengendarai mobil, mobil melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi apa bila mau belok? Sopir itu engga langsung membantingkan setirnya kan? Perlahan lampu sen dinyalakan, lihat kaca spion kiri dan kanan? Baru dia belok iya kan? Juga seorang ulama dulu, yang ceritanya, ketika dia menimba ilmu di pesantren. Dia amat bodo, sampai-sampai menjadi buah bibir orang lain. sampai ahirnya dia putus asa, kemudian dia pulang, sebab melewati rumahnya jalan hutan terpaksa dia istirahat sejenak di bawah pohon beringin yang besar, angin bertiup sepoi-sepoi ketika akan memejamkan matanya dia mendengar suara tetesan air yang berirama.
“tlung…tlang…tlung…”
Sampai akhirnya dia tak jadi istirahat dan bangun, lalu mencari dari mana sumber air tersebut, akhirnya dia menemukan, dia begitu aneh melihat air menetes ke atas batu, batu itu besar dan bercekung, dan diapun berpikir, kenapa tetesan air ini bisa mencekungkan batu yang besar?
Oh, karna air itu menetesnya teratur, begitupun dengan papah, selama ini kalau papah ngasih nasihat selalu to the point, itu engga boleh mah”.
Raihan menjelaskan dan memberikan perumpamaan
“dan mamah tadi bilang? Engga ada manusia yang terlahir sempurna, bahkan raihan sudah menjawabnya, kalau raihan juga sama tidak sempurna, justru dengan tida sempurna kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk saling melengkapi, saling berbagi suka dan duka. suka dan duka kita hadapi bersama, tapi kenapa dengan papah? Waktunya hanya selalu habis di kantor, bisnis inilah, bisnis itulah, berangkat jam tujuh pagi dan pulang jam delapan malam, sampai di rumah papah langsung tidur, papah hanya selalu sibuk dengan pekerjaannya, sedangkan kita? Kita semua terlantar, mah ? raihan, juga Tania, kita semua terlantar mah, terlantar akan kasih sayang dia, mamah seharusnya sadar dong, kalau masalah ini jangan terlarut lama.
Bu dewi menelan nafas dalam-dalam kemudian menghela nafasnya.
“benar juga ucapanmu itu han, terus gimana caranya supaya papah sadar? Mamah bingung han”.
Belum saja bu dewi selesai berbicara, pintu kamar terbuka, bu dewi dan raihan terkejut tubuh mereka bergetar tubuhnya serasa tersengat listrik, setengah percaya setengah tidak, kalau yang sedang berhadapan dengan merekatuh siapa? Bu dewi kira, mobil yang baru datang itu Tania, pulang dari rumah temannya. Pak Erwin berdiri tegak dihadapan mereka, kedua matanya menatap tajam bu dewi dan raihan. Bu dewi diam dan mukanya memerah, begitu juga raihan. Mereka takut akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, tiba-tiba kedua matanya yang asalnya melotot, sekarang berubah menjadi berkaca-kaca. Tiba-tiba pak Erwin mendekati Bu Dewi dan Raihan. Pak Erwin merangkul kedua-duanya.
“mah, han?, maafin papah yah nak, kalau selama ini papah selalu salah dihadapan kalian, papah terima kalau selama ini papah selalu acuh tak acuh kepada kalian, papah ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, karena kalian telah membuka pintu hati papah, han maafin papah yah, kalau papah serin membentak kamu, mah, papah juga minta maaf yah, kalau selama ini papah selalu menghabiskan waktu di kantor, sehingga kalian semua terlantar, terlantar akan kasih sayang. Papah berjanji, kalau ini adalah hal dan peristiwa terakhir”.
Bulu kuduk bu dewi serasa merinding. Apa mungkin iya? Pak Erwin berkata demikian? Bu dewi menatap Raihan, raihanpun menatap Bu dewi, mereka begitu gembira mendengarkan perkataan pak Erwin. Semoga perkataan itu benar dan bisa di pegang.
“iyah pah, raihan maafin kok”.
“betul pah, mamah juga tentu maafin papah”.
Pak Erwin bangkit dan tersenyum kecil, Pak Erwin keluar dari kamar dengan santai. Raihan begitu gembira melihat pak Erwin bisa menyadari semua kesalahannya
“mah? Apa mungkin ini? Yang dinamakan dengan hikmah? Mamahkan pernah bilang? Kalau setiap ada sesuatu itu pasti mengandung hikmah?”.
“betul nak”. Bu dewi menjawab dengan santai dan dengan bibir menyungging.
Raihan memandang wajah Bu Dewi, raihan tersenyum kecil. Bu dewi begitu senang, karena bisa melihat Raihan tersenyum kembali. Tiba-tiba pak Erwin memanggil Bu Dewi, dari ruang tamu.
“mah? Mamah!, sini dulu mah!”. Ujarnya.
“iyah pah”.
“han, mamah dipanggil dulu, sebaiknya, kamu istirahat saja dulu”. Perintahnya.
“hmm, iya mah”.
Bu Dewi keluar dari kamar dan “blugg”. Pintu kamar tertutup. Raihan bangkit dari tempat tidurnya, lalu menghampiri meja belajar, dan duduk di bangku. Tangannya begitu sibuk, menuliskan sesuatu di buku diarinya.
                                                                                                                                                         Jakarta 02-05-2010
Aku yakin setiap orang memiliki masalah, namun kenapa masalahku sepertinya melebihi orang lain, bahkan dengan semua orang yang hidup di dunia ini, sebenarnya aku ingin sekali dekat dengan papah, namun apalah artinya jika aku dekat dengan dia, aku selau menjadi tempat labuhan amarahnya.
Papah lebih berarti menjaga ribawa martabatnya, dibandingkan memberikan kasih sayang untukku, aku ingin papah menjadi tempat aduanku, namun aplah arti? Jika aku selalu menjadi gunjingannya?. Ya tuhan, bukannya berarti aku tidak menghargai papahku ini. Karna dia selalu membuatku sakit hati. terkadang akupun sempat berfikir, siapa sebenarnya yang salah diantara semuanya ini? Mungkin saja sebagai orang tua, menginginkan anaknya untuk menjadi yang baik diantara yang terbaik, namun apalah arti hidupku ini? Apa bila aku hanya selalu menjadi labuhan amarahnya……..


kebiasan raihan ialah selalu menuliskan hal-hal yang dia anggap penting. Baik hal itu menggembirakan atau sekalipun menyedihkan.
Bu dewi telah Nampak di depan pak Erwin, sesaat kemudian pak Erwin menghela nafasnya dalam-dalam, bu dewi duduk berhadapan dengan pak Erwin, hanya mejalah yang menjadi pemisah antar mereka. Pak Erwin mulai membuka percakapan.
“begini mah?, papah mau Tanya sama kamu, kira-kira? Kamu setuju enggak? Kalau raihan pindah sekolah?”.
“pindah? Emangnya, mau dipindahin kemana?”. Tanyanya penasaran.
“yah, justru itu mah, papah bingung, kalau raihan harus pindah sekolah kemana”.
“loh, kok begitu sih? Mamah kira? Papah sudah ngerencanain, eh tahu-tahu nya baru rencana”.
Pak Erwin diam sesaat, dia teringat sesuatu.
“gimana kalau missalnya raihan pindah sekolahnya ke bandung?”. Pak Erwin mengusulkan.
“hmm.. kalau mamah sih, setuju-setuju aja, asalkan dia mau, yah enggak masalah, emang apa masalahnya, Sampai raihan harus pindah sekolah segala?”.
“hm,, begini Mah, kalau misalnya dia begini terus? Kapan dia mau majunya?. Mah, mamah enggak tahu sih, kalau sekarang Raihan belajarnya turun sangat drastis, mamah juga harus ingat!, mumpung dia masih kelas satu smk, dan masih awal semester, mumpung semuanya belum terlambat, yah kita harus tegas mah, mah, papah enggak mau punya anak bodoh yang kelak masa depannya akan suram. Mah, kalau bukan kita yang mengurusnya, yah siapa lagi”.
“hm,, yah mudah-mudahan raihan bis terima keputusan ini”.
“iya mah”.



*****




GOES TO BANDUNG


     Pagi yang begitu indah, suasananya serasa damai, kini kedamaiannya dapat dirasakan oleh pak Erwin. Hati nya sangat bahagia, karena pepatahnya bisa dituruti oleh raihan. Dipagi itu, pak Erwin dan raihan akan pergi ke bandung untuk mencari sekolahan dan cossan yang mereka anggap sebagai tempat yang bagus, berkualitas dan nyaman.
Pak Erwin telah siap untuk berangkat, pakaiannya sudah rapi, hanya saja raihan yang belum beres.
“ha, cepetan, nanti keburu siang, jalanan takut keburu macet”. Pak Erwin memangggilnya dengan nada sedikit menggerutu.
“iyah pah, sebentar, tinggal pake baju”.
“sesaat kemudian raihan telah keluar dari kamarnya dan langsung menghampiri pak Erwin, yang sedang menunggunya dari tadi.
“kamu ini, kalau dandan kok, lama banget, kaya perempuan saja”. Pak Erwin menegaskan.
“maaf deh pah, habis raihan bingung, harus pake baju yang mana, yah terpaksa raihan pake baju yang ini, baju produksi asal sukabumi”. Raihan member tahu.
“loh, kamu punya baju baru? Dapet dari mana?”.
“begini loh pah, ceritanya, pas waktu ulang tahun kemaren raihan dapet kado baju ini, gitu loh pah”.
“bagus, rapi, kelihatannya, baju distro yah?”.
“betul pah, ini baju merknya scissor, merek ini sudah ngetren loh pah, tapi, papah pasti enggak tahu deh, soalnya kan papah selalu sibuk dikantor”. Raihan berkata sinis.
Tiba-tiba pak Erwin wajahnya merah, mendadak pak Erwin mengalihkan pembicaraannya.
“ya sudah, ayo sekarang kita berangkat!”.
“iya pah, ngobrol-ngobbrolnya dilanjutin di mobil saja, lagian mang parja kasian nungguin dari tadi”.
Kemudian pak Erwin dan raihan keluar dari dalam rumah “blugg”. Pintu tertutup, dengan berjalan tergesa-gesa mereka menghampiri mobil yang masih terparkir dihalaman.
“duh, maaf ja, telat dikit, biasa raihan dandannya lama, kaya perempuan”. Kini giliran raihan yang tersinggung.
“maaf yah mang”. Timpalnya.
“oh, ya sudah enggak apa-apa”.
Sesaat kemudian mobil melaju dengan tenang, sinar matahari mulai menyengat, mobil bermerk fortuner kini telah membelah kota jakart, kemudian mobil melaju dengan cepat, 100km/jam, mobil belok kearah tol, lalu mengambil jalur cipularang, tidak sampai memakan waktu yang lama, mereka telah memasuki kawasan bandung.
“pah, dari rumahkan kita belun sarapan, gimana kalau misalnya sarapan dulu?, betul enggak mang?”. Raihan mengusulkan, raihan mulai membuka pembicaraan, karena selama di jalan, raihan sibuk sms san di handphonenya, sementara pak Erwin asyik membaca Koran sindo. Sedangkan mang parja, menyetir dengan semangat.
“betul han”. Mang parja menjawab dengan bibir sedikit nyengir.
“emangnya kalian mau sarapan dimana?”
“disana saja tuh pah, kayaknya enak deh”. Raihan menunjukan kesebuah rumah makan khas sunda yang atapnya terbuat dari ilalang, dan dindingnya terbuat dari bilik, anyamannya begitu rapi.
“ya sudah enggak apa-apa, sebrangin dulu ja, mobilnya”. Pak Erwin menegaskan.
“beres pak”.
Ketika mobil akan menyebrang, tiba-tiba dari arah berlawanan datang sebuah mobil yang hendak menyelip dengan kecepatan yang sangat tinggi, hamper saja kedua mobil akan tabrakan,  mobil pak Erwin akan dihantam oleh mobil yang hendak menyelip. Untung saja mang parja langsung mengeremnya “ckiitt”.
Untung saja mang parja sudah ke CAP sopir yang handal, kalau misalnya yang baru bisa, sudah habis dihantam kali, yah walaupun mereka terkesima, tapi, sesaat kemudian rasa kesimanya sudah mulai hilang.
Tba-tiba seorang gadis berambut panjang dengan rok mininya, keluar dari mobil yang hendak menabraknya.
“tok-tok-tok”. Kaca mobil bagian belakanng, diketuknya dengan keras.
“eh, turun dong, dasar siah maneh, pake mobil saja enggak becus”. Cerocosnya, spontan mang parja langsung naik pitam dan langsung keluar dari mobil.
“eh, bapak ini kumaha sih, pake mobil saja enggak bisa”. Timpalnya lagi.
“enggak bisa-enggak bisa, eneng kali yang enggak bisa. Masa nyelip gitu doang enggak bisa, eh neng, begini-begini juga sayah teh sopir paling handal di Jakarta”. Mang parja menepuk-nepuk dadanya karena merasa bangga.
   Spontan muka gadis berambut hitam menjadi pucat pasi dan memerah. Tak keluar sedikitpun perkataan yang diucapkannya lagi, tanpa permisi ia langsung meninggalkan tempat itu, dan langsung pergi entah kemana
“brum…brum…”. Sesaat kemudian mobil telah menghilang memasuki tikungan.
“sugan heueuh, jelema teh”.
Siapakah gadis berambut panjang itu?, gadis manis berkulit putih, membuat raihan terkesima.
“benar, banyak orang bilang, kalau gadis bandung itu, cantik-cantik”. Gumamnya dalam hati raihan.
“untung saja barusan kita selamat”. Pak Erwin menjelaskan.
“iya pah”. Jawab raihan singkat.
“oh iya han, ja, kita mau jadi makan?”
“iya dong pah, perut raihan saja sudah keroncongan, benarkan mang?”. Mang parja hanya tersenyum.
“ja, nyebrangin mobilnya hati-hati yah”. Pinta pak Erwin.
“iya pak”. Jawab mang parja singkat.
   Sesaat kemudian mobil telah terparkir didepan rumah makan khas sunda WARUNG NASI LIWET
Raihan begitu lahap menyantap sajian, dia mengambil pecel lele, selada, dan tumis kerang. Mang parja menyamakan menu makannya dengan raihan. Hanya pak Erwin yang beda, dia mengambil ayam goreng, daun singkong dan sambal.
Angin bersepoy-sepoy, hawa kota bandung telah terasa. Masakannya begitu enak, sehingga mereka telah benar-benar lupa, akan kejadian yang hampir menewaskan itu.
“masakannya enak-enak yah pah”.
“oh iya, habis makan kita lanjutin perjalanan kita, yaitu mencari cossan dan sekolahan”
“iya pah”.
Setelah membayar semuanya, mereka kembali masuk ke mobil dan melanjutkan perjalanan, jalanan melintang, udara sangat sejuk, dan cuaca begitu cerah. Ingin rasanya mendadak pindah ke kota bandung.
Agak lama mereka mengelilingi kota bandung, akhirnya raihan menunjukan ke pak Erwin, dan mobilpun mendekati sebuah cossan yang bangunannya begitu menawan.
Setelah pak Erwin berbincang-bincang dengan pemilik cossan tersebut, pak Erwin segera menghampiri raihan dan mang parja, yang sedang menunggu di mobil.
“han, kira-kira kamu betah enggak? Tinggal disini?”.
“kayaknya sih betah”.
“ya sudah kalau misalnya begitu, sekarang kita cari sekolahannya”. Pak Erwin menegaskan.
“iya pa”. jawab raihan singkat.
Tidak jauh dari tempat cossan, pak erin telah menemukan sekolahan yang mereka cari.
“pah, disini saja lah, sekolahnya”.
“yakin? Enggak bakalan cari yang lain lagi?”.
“enggak, raihan sudah yakin”.
“ya sudah, kalau misalnya begitu, papah mau masuk dulu ke kantor, sementara kalian tunggu saja di mobil”.
Sesaat kemudian pak Erwin telah kembali lagi, dengan membawa beberapa lembar kertas, diantaranya, persyaratan-persyaratan, info penting tentang sekolah, formulir, dll.
“oh iya, sekarang kita mau kemana dulu”.
“sudahlah pak, mendingan langsung pulang saja, kasihan ibu sendiri di rumah”. Mang parja mengusulkan.
“terus? Beli peralatan sekolahnya kapan?”. Sambung raihan.
“udah saja nanti disana, bareng mamahmu”.
“oh iya pah, hampir lupa. Raihan barusan dapet sms dari mamah, katanya minta dibeliin oleh-oleh bandung”.
“apa yah?”. Pak ewrin memikirkan sesuatu.
“pak, makanan khas bandung itu, tape loh pak”. Mang parja memberi saran
“aduh, saya hampir lupa”.
“Orang bandung memang pada pintar, bikin tape enggak pake gula, tapi rasanya manis pah”. Raihan cengengesan.
Tak lama kemudian, pak Erwin telah membeli seikat tape. Tanpa buang waktu lagi, pak Erwin mengajaknya segera pulang.
Mobil kembali melaju dengan tenang, kini mobilpun telah meninggalkan kota bandung.






















*****





BACK TO JAKARTA


Kini pak Erwin beserta raihan dan mang parja telah sampai di rumah kembali.
“lo pah? Ko sebentar amat?”.sahut bu dewi yang sedang menunggunya dari tadi.
“biasa mah?, si parja pake mobilnya ngebut, betulkan ja?”.
“iya bu”. Jawab mang parja singkat.
“terus raihan mana? Kok enggak masuk?”.
“tuh, masih diluar, barusan sih lagi lepas sepatu dulu”. Pak Erwin member tahu.
“han?”. Sahut bu dewi.
“sebentar mah”. Sahut raihan dari luar, sesaat kemudian raihan telah masuk ke dalam rumah, dan langsung mennghampiri bu dewi yang sedang menunggunya.
“gimana han? Perjalanannya Seru enggak?”.
“seru dong mah”. Jawab raihan singkat. Raihan menceritakan semuanya, dari pertama hampir mau tabrakan, makan di rumah khas sunda.
“oh, iya mah hampir lupa”. Sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
“loh? Apa itu?’’ Tanya Bu Dewi heran.
“bukannya mamah tadi nge sms, katanya pengen oleh-oleh bandung?”.
“emang oleh-olehnya apa?”.
“tape mah”. Jawab raihan singkat.
“oh, tape yah, mamah suka banget, coba mamah nyicipin dikit”. Pintanya.
“nyampe abis juga enggak apa-apa”. Jawabnya dengan bibir menyungging.
“begini mah, papah bilang, katanya entar sore, kita belanja peralatan buat entar di bawa kebandun”.
“sore?, emangnya ke bandung nya? Mau kapan?”.
“mungkin, ntar, tiga hari lagi dari sekarang”.
“oh, ya sudah enggak apa-apa”. Jawabnya singkat.

16:00 wib
Selepas sholat asar , bu dewi bersama raihan langsung pergi untuk belanja. Sesaat kemudian, mereka telah kembali lagi dengan selamat. Wajar saja kalau misalnya belanjanya cepat. Karena dari rumah ke pusat perbelanjaan, itu kurang lebih, 1 km, jadi tidak memakan waktu yang lama.















*****





SUKA DAN DUKA KINI BERSATU


 pagi yang cerah dan sejuk,sinar mentari yang telah menyinari jagat raya, burung-burung kian kemari mengepakan sayapnyayang seolah-olah membangunkan yang sedang tertidur lelap, setetes demi setetes air embun mulai kering.
Di pagi itu kota Jakarta tidaklah jelas kalau dipandang oleh mata, akan tetapi sangatlah indah kalau di rasakan oleh hati, setelah barang-barang tersimpan di mobil, raihan segera menghampiri pak Erwin dan bu dewi yang sedang menunggunya di ruang tamu.
“pah…mah…”. Sahut raihan dari kejauhan.
“gimana han? Udah siap?”. Tanya bu dewi.
“sudah mah”. Jawab raihan dengan bibir menyungging.
Tiba-tiba mang parja menyerepet dari arah dapur.
“gimana pak? Bu? Udah siap”.
“udah ayo mang, lets go!”. Ujar raihan memotong.
“lets go, markitkem”.
“apa itu markitkem mang?”.
“markitkem itu, mari kita kemon” ujar mang parja cengengesan.
Sesaat kemudian mereka telah memasuki mobil, mang parja menyetir pak Erwin duduk di sampingnya sedangkan raihan dan bu dewi duduk di kursi belakang,sementara Tania tidak ikut, karna masih banyak tugas yang harus di selesaikan di sekolahnya, diantaranya untung menghadapi ujian, mempersiapkan untuk pelepasan osis lama, pelantikan osis baru dan masih banyak yang lainnya,. Tania akhir-akhir ini selalu pake mobil raihan dengan plat mobil B 1241 MO Honda cr-v berwarna hitam telah meluncur dan memasuki pusat kota”ckitt” mobil belok kearah told an melaju dengan cepat 120 km/jam, tak lmemakan waktu yang lama, akhirnya mereka telah sampai di tempat yang dituju di halaman cossan.
“ckiit” mobil berhenti dengan tenang.
“Alhamdulillah, sampai”. Ucap raihan lirih.
“ayo turun han”. Ujar bu dewi mengajak.
“iya mah”.
“tok,tok,tok”. Pintu rumah diketuknya
“assalamualaikum?”. Ucap pak Erwin, sesaat kemudian pintu telah terbuka.
“oh pak Erwin, mangga-mangga silahkan masuk!”. Ucap pemilik cossan itu dengan ramah.
“sebentar yah pak, saya ambilkan minum dulu”.
“enggak usah ngerepotin bu”. Jawabnya singkat .
“pah? Itu siapa namanya?”. Tanya raihan.
“oh iya, papah hampir lupa, itu namanya bu yeni pemilik cossan ini”.
“oh”.
Tiba-tiba bu yeni telah kembali dengan membawa empat gelas tehdingin dan sepiring tape goreng.
“hmm,mamah pasti suka dengan yang satu ini”.
Bu dewi tersenyum karna melihat makanan favoritnya, yaitu tape.
“pak, bu, de, mas, silahkan tehnya diminum, saya tinggal dulu”.
“pah, kayanya bu yeni orangnya baik yah?”. Tanya raihan.
“memang sudah sewajarnya seorang pribumi harus sopan kepada tamunya, tapi kita juga jangan mentang-mentang tamu, kita juga harus baik”.
“iya dong pah”. Ucap raihan santai.
Sejenak mereka beristirahat, sesaat kemudian pak Erwin memanggil bu yeni.
“bu yeni”.
Tiba-tiba bu yeni datang dan langsung menghampirinya.
“iya pak, ada apah?”.
“hmm, boleh saya lihat-lihat dulu?”. Yah keliling-kelilinglah,
“yah, mangga, silahkan, apa mau saya antar?”.
“gak usah bu, oh iya kalau bisa ibu jangan dulu ke mana-mana biar enggak manggil-manggil lagi”.
“ohh,ya sudah enggak apa-apa”.
Lama mereka berkeliling, mondar mandir kesana kemari, mencari kamar kosong, tiba-tiba raihan diam sejenak.
“pah disini sajalah, enak deh, ada garasinya lagi, yang lain kan engga ada”.
“ya sudah, kalu emang maunya disina yah enggak apa-apa, toh kamu yang menempatinya”. Jawab pak Erwin tenang.
“owh iya pah, mamah pengen tahu, berapa bayar perbulannya”. Tanya bu dewi.
“papah  juga belum tahu sih, lebih jelasnya kita langsung tanyain yuk!!”. Ajaknya.
“gimana pak, sudah ada yang cocok?”.
“hmm, sudah bu, tinggal negoisasi tentang ke uangannya saja”.
“owh begitu ya, hmm, emangnya anak bapak ini milih kamar yang mana, maksudnya, blok apa dan nomor berapa?”.
“hm,blok A no satu, itu bayarnya mahal dan beda dari yang lain”.
“maksudnya”.
“pertama, di dalamnya ada WC nya, plus showernya, kedua ruangan full AC, ketiga, cuci laundry, ke empat cleaning service sehari dua kali, pagi dan sore, ditambah di dalamnya telah tersedia ranjang , lemari baju dua kali dua, dispenser, TV 21in, rak buku, pokonya kalau pasilitas di jamin deh pak!”.
“terus, bayaran perbulannya berapa?”.
“tidak kuang, tidak lebih, bayaran perbulan semuannya satu juta limaratus”. Bu yeni menjelaskan panjang lebar.
“hm, kalau makannya?”.
“oh iya, saya hampir lupa, sekali makan lima ribu, bisa pesan lewat saya, dan langsung saya kirim”.
Setelah semua barang-barang  di rapihkan , kemudian pak Erwin menghampiri raihan dan membisikan.
“han, belajar yang benar yah”.
“Iya pah”. Ucap raihan lirih.
“ya sudah, kalau begitu papah sama mamah mau pulang kejakarta”.
“tapi?”. Raihan mencegahnta.
“sudahlah han, belajar yang sungguh-sungguh, jangan mikirin hal-hal yang enggak penting”.
Sesaat kemudian mata raihan berkaca-kaca, ia sadar kalau dirinya akan lama tinggal di negri orang, tiba-tiba menangis tersedu-sedu dan air matanya meleleh.
“sudah lah han, jalanin saja dulu, mamah yakin ko, kalau semua ini yang terbaik buat kamu”. Bu dewi menjelaskan, ia masih menangis, pipinya yang manis terlinang air mata, hatinya pilu tubuhnya lemas, karna akan di tinggal oleh keluarga yang walaupun untuk sementara.
“Terus. Raihan disini enggak bawa mobil?”.
“iyah papah tahu, paling entar kenaikan kelas dua, kamu bisa bawa mobil? Toh sekarang mobilmu sering di pake Taniya, kasihan jugakan taniya? Sekolahnya jauh, kalau naik angkutan umum sering kejebak macet, akibatnya kesiangan, sudah tahu kalau adikmu cenggeng”.
“iyah pah”. raihan menjawab dengan suara parau.
“yasudah kalau begitu, papah sama mamah mau pamit saja, kalau misalnya ada apa-apa, langsung telfon saja”. Ucap pak Erwin.
“hm, ya sudah hati-hati di jalan jangan lupa, sering-sering yach tengok raihan”.
“iya”.
Sesaat kemudian pak Erwin budewi dan mang parja telah masuk ke mobil.
“brum…brum…brum…”. Mobil menyala, perlahan melaju dengan tenang, lama kelamaan, mobil telah hilang dari pandangan mata, dan yang terlihat sekarang hanyalah kepulan asap-asap dan jalan yang membentang.
“blig” pintu kamar tertutup.
“pah, mah, maafin raihan yah”. Ucapnya lemah.
Matanya masih berkaca-kaca, air matanya masih meleleh, mungkin karna sering capeknya perjalanan dari Jakarta menuju bandung sesaat kemudian raihan tertidur.



*****